A.Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Melaksanakan PAIKEM
Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM)
merupakan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Menurut Suparlan, dkk
(2008: 74) ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan
PAIKEM yaitu :
1). Mengenal anak secara perorangan
Masing-masing siswa/anak berasal dari lingkungan keluarga yang
bervariasi dan memiliki kemampuan yang berbeda. Dalam PAIKEM perbedaan
individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam kegiatan
pembelajaran. Dengan mengenal kemampuan anak, guru dapat membantunya
bila mendapat kesulitan sehingga belajar anak menjadi optimal.
2). Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar
Sebagai makhluk sosial,
anak sejak kecil secara alami bermain berpasangan atau berkelompok.
Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar. Dengan
duduk berkelompok akan memudahkan mereka untuk saling berinteraksi dan
bertukar pikiran dalam menyelesaikan tugasnya.
3) Mengembangkan kemampuan berfikir kritis, kreatif
Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Kemampuan
berpikir kritis untuk menganalisis masalah dan kreatif untuk melahirkan
alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis berfikir tersebut berasal dari
rasa ingin tahu dan berimajinasi oleh karena itu tugas guru adalah
mengembangkannya dengan sering-sering memberikan tugas atau mengajukan
pertanyaan yang terbuka.
5) Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik
Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajang untuk dapat memberi
motivasi siswa bekerja lebih baik lagi dan menimbulkan inspirasi bagi
siswa lainnya. Dan juga dapat dijadikan rujukan bagi guru ketika
membahas suatu masalah.
6) Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) sebagai bahan dan sumber
belajar perlu dimanfaatkan oleh guru, agar anak menjadi lebih senang,
dapat mengembangkan sejumlah keterampilan seperti mengamati, mencatat,
merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengklasifikasi, membuat tulisan,
membuat gambar dan lainnya.
7) Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar
Umpan balik merupakan interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik
hendaknya lebih mengungkapkan kekuatan daripada kelemahan siswa dan
diberikan secara santun untuk menanamkan rasa percaya diri. Guru harus
konsisten memeriksa dan memberikan hasil pekerjaan siswa.
8) Membedakan antara aktif fisikal dan aktif mental
Aktif mental
lebih diutamakan daripada aktif secara fisikal. Hal ini dimaksudkan
untuk menimbulkan keberanian dari siswa. Guru hendaknya mampu
menghilangkan perasaan penyebab rasa takut tersebut.
Hal-hal di
atas jika diperhatikan dengan baik maka akan member peluang
Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM)
akan berhasil. Ciri-ciri PAIKEM berhasil, Menurut Suparlan, dkk (2008:
95) adalah “aktif, kritis, kreatif, kematangan emosional-sosial
meningkat, produktif dan siap menghadapi perubahan”. Dan tidak diragukan
lagi jika PAIKEM benar-benar dilaksanakan dengan sebagaimana mestinya
maka tujuan pendidikan seperti apa yang diharapkan dalam Undang-Undang
yakni membentuk watak dan mengembangkan potensi anak didik akan
tercapai.
B.PENJABARAN PAIKEM
1. Pembelajaran Aktif
Secara harfiah active artinya: ”in the habit
of doing things, energetic” (Hornby, 1994:12) artinya terbiasa berbuat
segala hal dengan menggunakan segala daya. Pembelajaran yang aktif
berarti pembelajaran yang memerlukan keaktifan semua siswa dan guru
secara fisik, mental, emosional, bahkan moral
dan spiritual. Guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga
siswa aktif bertanya, membangun gagasan, dan melakukan kegiatan yang
dapat memberikan pengalaman langsung, sehingga belajar merupakan proses
aktif siswa dalam membangun pengetahuannya sendir.
sebuah proses belajar dikatakan aktif (active learning) apabila mengandung:
1) Keterlekatan pada tugas (Commitment)
Dalam hal ini, materi, metode, dan strategi pembelajaran hendaknya bermanfaat bagi siswa (meaningful), sesuai dengan kebutuhan siswa (relevant), dan bersifat/memiliki keterkaitan dengan kepentingan pribadi (personal).
2) Tanggung jawab (Responsibility)
Dalam hal ini, sebuah proses belajar perlu memberikan wewenang
kepada siswa untuk berpikir kritis secara bertanggung jawab, sedangkan
guru lebih banyak mendengar dan menghormati ide-ide siswa, serta
memberikan pilihan dan peluang kepada siswa untuk mengambil keputusan
sendiri.
3) Motivasi (Motivation)
Proses belajar hendaknya lebih mengembangkan motivasi intrinsic
siswa. Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari
dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan
belajar. Dalam perspektif psikologi kognitif, motivasi yang lebih
signifikan bagi siswa adalah motivasi intrinsik (bukan ekstrinsik)
karena lebih murni dan langgeng serta tidak bergan¬tung pada dorongan
atau pengaruh orang lain. Dorongan mencapai prestasi dan memiliki
pengetahuan dan keterampilan untuk masa depan, umpamanya, memberi
pengaruh lebih kuat dan relatif lebih lang¬geng diban¬dingkan dengan
dorongan hadiah atau dorongan keharusan dari orangtua dan guru. Motivasi
belajar siswa akan meningkat apabila ditunjang oleh pendekatan yang
lebih berpusat pada siswa (student centered learning).
Guru mendorong siswa untuk aktif mencari, menemukan dan memecahkan
masalahnya sendiri. Ia tidak hanya menyuapi murid, juga tidak seperti
orang yang menuangkan air ke dalam ember.
Kriteria Pembelajaran Aktif:
Siswa melakukan sesuatu dan memikirkan apa yang mereka lakukan seperti:
• Menulis
• Berdiskusi
• Berdebat
• Memecahkan masalah
• Mengajukan pertanyaan
• Menjawab pertanyaan
• Menjelaskan
• Menganalisis
• Mensintesa
• Mengevaluasi
2. Pembelajaran Inovatif
Inovasi
adalah sebagai: “something newly introduced such as method or device”.
Berdasarkan takrif ini, segala aspek (metode, bahan, perangkat dan
sebagainya) dipandang baru atau bersifat inovatif apabila metode dan
sebagainya itu berbeda atau belum dilaksanakan oleh seorang guru
meskipun semua itu bukan barang baru bagi guru lain.
Pembelajaran inovatif dapat menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan apabila dilakukan dengan cara meng- integrasikan media/alat
bantu terutama yang berbasis teknologi baru/maju ke dalam proses
pembelajaran tersebut. Sehingga, terjadi proses renovasi mental, di
antaranya membangun rasa pecaya diri siswa. Penggunaan bahan pelajaran, software multimedia, dan microsoft power point merupakan salah satu alternatif.
Pembelajaran yang inovatif diharapkan mampu membuat siswa yang
mempunyai kapasitas berpikir kritis dan terampil dalam memecahkan
masalah. Siswa yang seperti ini mampu menggunakan penalaran yang jernih
dalam proses memahami sesuatu dan piawai dalam mengambil pilihan serta
membuat keputusan. Hal itu dimungkinkan karena pemahaman interkoneksi di
antara system atau subsistem terkait dengan persoalan yang dihadapinya.
Juga terlihat kemampuan mengidentifikasi dan menemukan pertanyaan tepat
yang dapat mengarah kepada pemecahan masalah secara lebih baik.
Informasi yang diperolehnya akan dikerangkakan, dianalisis dan
disintesiskan sehingga akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan
tersebut dengan baik.
Pembelajaran yang inovatif juga
tercermin dari hasil yang diperlihatkan siswa yang komunikatif dan
kolaboratif dalam mengartikulasikan pikiran dan gagasan secara jelas dan
efektif melalui tuturan / lisan dan tulisan. Siswa dengan karakteristik
semacam ini dapat menunjukkan kemampuan untuk bekerja secara efektif
dalam tim yang beraneka, untuk memainkan fleksibilitas dan kemauan
berkompromi dalam mencapai tujuan bersama.
3. Pembelajaran Kreatif
Kreatif
(creative) berarti menggunakan hasil ciptaan / kreasi baru atau yang
berbeda dengan sebelumnya. Pembelajaran yang kreatif mengandung makna
tidak sekedar melaksanakan dan menerapkan kurikulum. Kurikulum memang
merupakan dokumen dan rencana baku, namun tetap perlu dikritisi dan
dikembangkan secara kreatif. Dengan demikian, ada kreativitas
pengembangan kompetensi dan kreativitas dalam pelaksanaan pembelajaran
di kelas termasuk pemanfaatan lingkungan sebagai sumber bahan dan sarana
untuk belajar. Pembelajaran kreatif juga dimaksudkan agar guru
menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai
tingkat kemampuan siswa dan tipe serta gaya belajar siswa
Kriteria Kreatif:
• Berpikir kritis
• Memecahkan masalah secara konstruktif
• Ide/ gagasan yang berbeda
• Berfikir konvergen (pemecahan masalah yang “benar” atau “terbaik”).
• Berfikir divergen (beragam alternative pemecahan masalah)
• Fleksibelitas dalam berpikir (melihat dari berbagai sudut pandang)
• Berfikir terbuka
4. Pembelajaran Efektif
Pembelajaran
dapat dikatakan efektif (effective / berhasil guna) jika mencapai
sasaran atau minimal mencapai kompetensi dasar yang telah ditetapkan. Di
samping itu, yang juga penting adalah banyaknya pengalaman dan hal baru
yang “didapat“ siswa. Guru pun diharapkan memeroleh “pengalaman baru”
sebagai hasil interaksi dua arah dengan siswanya.
Untuk
mengetahui keefektifan sebuah proses pembelajaran, maka pada setiap
akhir pembelajaran perlu dilakukan evaluasi. Evaluasi yang dimaksud di
sini bukan sekedar tes untuk siswa, tetapi semacam refleksi, perenungan
yang dilakukan oleh guru dan siswa, serta didukung oleh data catatan
guru. Hal ini sejalan dengan kebijakan penilian berbasis kelas atau
penilaian authentic yang lebih menekan- kan pada penilaian proses selain
penilaian hasil belajar.
Kriteria Efektif:
Ketercapaian target hasil belajar, dapat berupa:
• Siswa menguasai konsep
• Siswa mampu mengaplikasikan konsep pada masalah sederhana
• Siswa menghasilkan produk tertentu
• Siswa termotivasi untuk giat belajar
5. Pembelajaran Menyenangkan
Pembelajaran
yang menyenangkan (joyful) perlu dipahami secara luas, bukan hanya
berarti selalu diselingi dengan lelucon, banyak bernyanyi atau tepuk
tangan yang meriah. Pembelajaran yang menyenangkan adalah pembela- jaran
yang dapat dinikmati siswa. Siswa merasa nyaman, aman dan asyik.
Perasaan yang mengasyikkan mengandung unsur inner motivation, yaitu dorongan keingintahuan yang disertai upaya mencari tahu sesuatu.
Menurut Suprijono (2009) pembelajaran menyenangkan adalah pembelajaran
dengan suasana Socio emotional climate positif. Peserta didik merasakan
bahwa proses belajar yang dialaminya bukan sebuah derita yang mendera
dirinya, melainkan berkah yang harus disyukurinya. Belajar bukanlah
tekanan jiwa pada dirinya, namun merupakan panggilan jiwa yang harus
ditunaikannya.
Kriteria Menyenangkan:
Pembelajaran berlangsung secara:
• Interakti
• Dinami
• Menarik
• Menggembirakan
• Atraktif
• Menimbulkan inspirasi
Berikut ini adalah beberapa teknik yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar – mengajar yang aktif (PAIKEM).
1.
Think-Pair-Share merupakan kegiatan sederhana di kelas. Guru memberikan
waktu kepada siswa untuk memikirkan tentang
sebuah topik, berdiskusi dengan teman sebayanya, dan berbagai hasilnya
dengan teman lain di kelasnya.
2. Minute Papers ialah
kegiatan guru memberikan peluang kepada siswa untuk menyintesiskan
pengetahuannya dan menjawab pertanyaan seperti apa hal yang paling
penting yang telah dipelajari hari ini? Apa pertanyaan yang belum
terjawab? Dan pertanyaan lainnya yang menyangkut kegiatan belajar
mengajar yang telah dilaluinya.
3. Writing Activities
merupakan peluang bagi siswa untuk berpikir dan memproses informasi yang
dimilikinya. Misalnya sebagai tambahan kegiatan Minutes Papers di atas,
guru dapat memberikan sebuah pertanyaan yang dari satu siswa diberi
waktu untuk secara bebas menuliskan jawabannya. Tentu saja guru juga
bisa memberikan topik; untuk menjadi bahan yang akan ditulis oleh
siswanya.
4. Brainstorming merupakan teknik sederhana
lainnya yang dapat melibatkan semua siswa di dalam kelas untuk
berdiskusi. Dengan mengetengahkan sebuah topik, guru dapat meminta
masukan dari siswanya dan mencatat masukan – masukan itu pada papan
tulis.
5. Games merupakan teknik yang biasanya menarik
banyak siswa. Bisa termasuk di dalamnya matching, mysteries, group
competitions, solving puzzles, dan lain sebagainya.
6. Debates
yang ditampilkan di kelas bisa menjadi alat yang efektif dalam
mendorong siswa untuk berpikir tentang sesuatu dari arah yang
berbedabeda.
7. Group work dapat menjadi peluang bagi
setiap siswa untuk berbicara, berbagi pandangan, dan mengembangkan
keterampilan untuk berkolaborasi dengan orang lain.
8.
Case Studies biasanya menggunakan cerita nyata dari kehidupan seharihari
yang terjadi pada masyarkat di lingkungan siswa itu sendiri, dalam
keluarga, dalam sekolah, atau yang terjadi pada seseorang di antara para
siswa itu. Hal ini akan memberikan wawasan tentang situasi nyata,
langkah yang sebaiknya diambil, dan akibat-akibat yang mungkin terjadi.
9.
Concept mapping membantu siswa untuk bisa menciptakan representasi
visual dari model, gagasan, dan hubungan antara konsep. Mereka
menggambarkan dengan menggunakan lingkaran dan garis penghubung, dengan
fase yang dapat menghubungkan pada garis-garis tersebut. Kegiatan ini
dapat dilakukan secara individual maupun kelompok